Pages

Saya Ingin Anda Sukses, Saya Harus Membuat Anda Sukses

Saya sedang melongok-longok blog Saya sendiri. Anak-anak sudah tidur sehingga "dunia" sudah cukup tenang buat Saya untuk lebih berkonsentrasi. Istri Saya datang mengantar minuman. Diletakkannya cangkir, kemudian menarik kursi dan duduk di samping Saya. Satu menit kemudian ia bertanya tentang tagline atau sub headeryang sering tercantum di blog Saya yang bunyinya, "Saya Ingin Anda Sukses. Saya Harus Membuat Anda Sukses."

"Bagaimana jika orang bertanya, apakah Mas Sopa sudah sukses? Sehingga dengan begitu sudah mengantongi lisensi untuk mensukseskan orang lain? Apa jawab Mas?"

Saya menoleh dan tersenyum. "Aku akan bilang bahwa aku belumlah sukses. Kesuksesanku akan sangat tergantung pada kesuksesan orang lain. Jika orang lain menjadi sukses, maka aku juga akan sukses."

Istri Saya mengernyitkan dahinya. Saya pun memutar badan. Saatnya berdiskusi.

Tahukah Anda, bahwa sukses Anda sangat tergantung pada sesuatu di luar diri Anda? Nah lho! Pak Sopa ini gimana toh, kemarin bilang bahwa sukses adanya di dalam diri sendiri. Jennie S. Bev bahkan bilang bahwa Sayalah sukses itu. Kok sekarang jadi lain lagi?

Tidak. Tidak lain. Ini hanyalah soal cara pandang. Mari kita telusuri, dan ingatlah bahwa ini erat hubungannya dengan konsep mastermind dan mind power.

Sukses Anda tergantung pada suksesnya "sesuatu" di luar Anda. Sesuatu itu bisa orang lain, atau memang "sesuatu" saja di luar sana. Sesuatu di luar Anda itu bisa benda hidup atau benda mati. Intinya, sesuatu itu adanya pasti di luar "Anda".

Jika Anda pegawai atau karyawan, bagaimanakah Anda mencapai sukses? Bagaimana caranya mendapatkan promosi? Apa yang perlu Anda lakukan agar karir Anda melejit sampai ke puncak? Apa yang perlu Anda capai agar Anda mencapai kesuksesan sebagai pegawai atau karyawan?

Pertama, Anda perlu mensukseskan tugas dan pekerjaan Anda. Kedua, Anda perlu mensukseskan program organisasi atau perusahaan Anda. Ketiga, Anda perlu mensukseskan boss Anda. Keempat, Anda perlu mensukseskan organisasi atau perusahaan Anda. Setelah itu, barulah Anda bisa sukses.

Jika Anda manager, apa yang Anda perlukan agar Anda bisa sukses sebagai manager?

Anda harus mensukseskan anak buah Anda.

Jika Anda guru, dosen, trainer, coach, mentor, atau motivator, apa yang Anda perlukan agar Anda bisa sukses sebagai profesional di bidang-bidang itu?

Anda harus mensukseskan murid, siswa, dan trainee Anda. Saat mereka keluar dari ruangan kelas, merekalah yang harus merasa sukses, bukan Anda. Setelah itu, barulah Anda bisa disebut sebagai pembina dan pendidik yang sukses.

Jika Anda pengusaha yang memproduksi sepatu, apa yang Anda perlukan agar Anda bisa disebut sebagai pengusaha sukses?

Anda perlu mensukseskan sepatu Anda, agar menjadi sepatu pilihan. Sepatu yang diminati, digemari, dicari, dan dibeli. Jika itu berhasil dicapai, maka barulah Anda disebut pengusaha sukses.

Jika Anda penjual bakso? Ya Anda harus mensukseskan bakso Anda terlebih dahulu, barulah Anda bisa disebut sebagai pedagang bakso yang sukses.

Jika Anda penulis? Anda harus menjadikan buku Anda sukses, misalnya dengan menjadi best seller. Barulah di belakangnya, Anda akan disebut penulis sukses.

Jika Anda petani buah jeruk?

Pertama Anda harus mensukseskan bibit jeruk Anda untuk terus bertahan hidup dan selamat dari segala penyakit dan hama. Kedua, Andaharus mensukseskannya untuk berbuah. Ketiga, Anda harus mensukseskannya untuk bisa bertahan sampai masak di pohon supaya kualitasnya paling baik. Bahkan, Anda juga harus mensukseskan rasanya agar manis dan segar. Kemudian, Anda harus mensukseskan penjualannya. Sudah? Belum! Anda juga harus mensukseskannya agar setiap kunyahan konsumen bisa meninggalkan bekas sukses. Barulah Anda disebut sebagai petani sukses.

Ya. Sukses Anda tergantung pada kesuksesan sesuatu yang lain di luar diri Anda sendiri.

Anda akan bisa mengetahui apakah Anda akan sukses atau tidak, jika Anda bisa memprediksi sukses tidaknya sesuatu di luar Anda.

Maka, waspadalah jika Anda merasa tidak betah di kantor karena nggak sreg dengan boss Anda. Itu tanda bahwa sukses Anda bukan di situ tempatnya. Anda, nggak bakalan sukses di kantor itu sepanjang "nggak sreg" itu masih ada.

Waspadalah, jika Anda merasa bosan dengan profesi yang Anda geluti. Itu tanda bahwa Anda tidak akan sukses di dalam profesi itu.

Waspadalah, jika Anda merasa tidak bisa menghadapi murid, siswa, atau trainee Anda dengan segala tingkah dan polahnya. Anda tidak akan sukses sebagai pembina dan pengajar.

Waspadalah, jika Anda sering membenci bawahan Anda. Anda nggak bakal sukses sebagai pemimpin. Itu artinya, organisasi dan perusahaan Anda juga nggak bakal sukses di tangan Anda.

Lantas bagaimana, ganti profesi? Pindah kantor? Ganti produk? Tukar tanaman? Tidak juga.

Ketahuilah sebuah titik awal yang paling penting untuk Anda sukseskan, yaitu mindset Anda. Ketahuilah bahwa akal dan pikiran Anda juga berada di luar "Anda".

Jika selama ini Anda berpikir bahwa "Anda" adalah akal Anda; berhentilah. Sebenarnya, akal Anda adalah tool alias alat kelengkapan "Anda". Andalah user dari akal Anda, bukan sebaliknya.

Pahamilah bahwa akal Anda, sebenarnya juga berada di luar "Anda". Akal Anda adalah instrumen kemanusiaan Anda. Maka hal pertama yang perlu Anda lakukan, adalah "mensukseskan" akal dan pikiran Anda. Barulah dengan begitu, "Anda" lebih mudah menjadi sukses. Bagaimana mensukseskan akal dan pikiran Anda? Anda tahulah harus bagaimana.

Jika Anda berhasil, Anda tidak perlu berganti profesi atau pindah ke kantor, bidang, atau pekerjaan yang lain. Dijamin, Anda pasti akan sukses di sana.

Sekarang bisakah Anda meletakkan dengan tepat, di mana letaknya sukses berdasarkan contoh-contoh konsep berikut ini?

"Kerjakan apa yang Anda inginkan"
"Lakukan apa yang Anda senangi"
"Komentar atau testimoni"
"Iklan dan promosi"
"Kerja keras"
"Manusia dalah makhluk individu sekaligus sosial"
"Anda harus bekerjasama"
"Orang yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat"
"Pahlawan tanpa tanda jasa"


Sukses Anda, hanya bisa tercipta jika Anda mensukseskan sesuatu di luar Anda.

Ya. Saya ingin Anda sukses. Saya harus membuat Anda sukses. (Hanya dengan mencapai itu, Saya akan mencapai sukses Saya.)

Sumber: ikhwan sopa [andrie wongso]

Saya dan Bakat Saya

Pada awalnya saya menyangka bakat saya banyak sekali. Tapi baru ketahuan bahwa bakat saya ternyata sedikit sekali. Kapan saya merasa memiliki banyak bakat dan kapan saya merasa sedikit bakat ini adalah tahapan yang menarik untuk dielaborasi. Saya mulai dari yang pertama, etape perasaan banyak bakat.

Etape ini muncul terutama ketika minat saya kepada sesuatu luas sekali. Saya merasa ingin menjadi tentara, musisi, penyanyi, pelukis, kartunis,penulis... dan banyak lagi minat yang datang silih berganti. Di etape ini, saya bukan cuma merasa ingin, tetapi juga merasa bisa. Setiap soal yangsedang saya minati, rasanya saya berbakat sekali dan itulah satu-satunya pilihan hidup yang saya minati. Rasanya di dunia, tak ada yang lebih menarik di luar soal yang sedang saya minati ini.

Melihat tentara yang gagah dengan seragamnya, itulah satu-satunya profesi yang paling saya ingini di dunia ini. Seluruh bayangan, impian, mainan dan cita-cita hanya tertuju ke satu arah saja: tentara. Tetapi alam membimbing saya dengan caranya sendiri: tinggi tubuh saya. Mulai SMP berhentilah tinggi badan itu dan saya menjadi remaja yang cekak secara anatomi. Saya mulai gelisah. Begitu gelisah saya pada soal ini sampai kesibukan saya terbesar hanya mengurus soal tinggi badan dan mengubur begitu saja kegairahan saya menjadi tentara. Malah kini, bekasnya senoktah pun tak ada.

Tak cuma tentara, seluruh profesi dan cabang pekerjaan yang memakai syarat tinggi badan langsung saya hapus dari daftar keinginan. Sedih pasti. Tetapi pelajaran pertama saya dapatkan: bakat bukanlah selalu menyangkut soal yang kita minati. Penuh minat tak selalu ekuivalen dengan penuh bakat. Pengalaman berikut menegaskan tesis ini.
 

Lepas berminat jadi tentara saya ingin menjadi penyanyi dan musisi. Bahkan untuk belajar gitar saya sanggup menjadi murid siapa saja dengan syarat apa saja. Termasuk diajak untuk menenteng gitar guru saya itu ke mana pun dia pergi. Siang malam saya bergitar dan bernyanyi. Panggung-panggung pertunjukan dari kampung ke kampung saya datangi. Pentas seni di sekolah menjadi panggung yang mendebarkan hati. Tak ada yang keliru dari cita-cita ini. Semua terasa baik-baik saja. Semuanya kemampuan rasanya tersedia, kecuali kesempatan saja yang belum tiba. Untunglah kesempatan itu tak pernah benar-benar tiba sehingga saya berkesempatan meninjau ulang persangkaan terhadap bakat saya ini.

Baru ketahuan sekarang ini, bahwa bakat saya di bidang musik berbanding terbalik dengan bayangan: yang lebih besar ternyata bukanlah bakat sebagai pemusik tetapi bakat saya sebagai pendengar. Intuisi saya sebagai pemusik tak sebaik intuisi saya sebagai pendengar. Tetapi ada suatu keadaan, ketika menjadi pemain lebih saya minati ketimbang sebagai pendengar. Inilah periode yang menurut saya adalah sebuah tahapan yang penuh derita. Yakni meminati sesuatu yang keliru tanpa kita tahu, sampai alam sendiri yang kelak memberi tahu. Celakanya, cuma sekadarpemberitahuan itu, membutuhkan waktu tertentu, dengan salah pilih di sana-sini, salah duga di sini dan sana. Tapi pelajaran kedua ini menegaskan soal yang sama: bakat itu lagi-lagi tidak selalu terletak pada apa yang kita suka.

Karenanya, perasaan merasa berbakat itu, adalah jebakan yang berbahaya. Inilah perasaan yang akan menyedot seluruh minat, seluruh konsentrasi, seluruh keyakinan untuk hanya tertuju ke satu arah saja. Pada arah lain, saya bukan cuma cenderung tak berminat tapi malah juga sinis dan meremehkan. Seluruh nasihat yang mendorong untuk membuat rekreasi sudut pandang, apalagi anjuran yang meminta berpindah ke lain jurusan tak akan mendapat gubrisan. Inilah kenapa banyak sekali orang yang suaranya fals, tetapi selalu semangat menyumbang lagu di setiap panggung hiburan. Besarnya energi orang ini untuk mengagumi suaranya sendiri sampai mengubur kesadarannya untuk sekadar memahami betapa buruk suaranya itu.

Dalam beberapa hal ini jugalah yang saya alami. Jika pertunjukan vocal group saya di SMA itu direkam dan diputar ulang, saya pasti lebih memlilih membakar kasetnya ketimbang harus menontonnya. Dan dunia yang membuat saya kini tersipu-sipu itu adalah dunia yang dulu membuat saya terobsesi. Astaga, betapa berbahaya, terobsesi untuk soal-soal yang keliru.

Tapi lagi-lagi soal yang keliru di sana dulu itu, adalahsoal yang kekeliruannya baru terasa setelah saya sampai di sini, sekarang ini. Pada saatnya, saya sama sekali tidak memiliki kesadaran apa pun tentang betapa keliru tempat saya itu. Semua tempat yang sedang saya minati saat itu, betapa pun keliru, adalah tempat yang begitu ingin saya huni. Jadi, bakat itu, ternyata adalah sebuah proses jatuh bangun. Keunikan itu, juga sebuah proses yang terakumulasi. Tidak ada bakat yang tiba-tiba menjadi. Tidak ada keunikan yang terbentuk tanpa oplosan di sana-sini. Ia bagian dari sikap akumulatif tanpa henti. Semakin akumulatif Anda, semakin uniklah Anda. Keunikan sayadi hari ini, pasti hasil dari larutan minat saya menjadi tentara, musisi, penyanyi, kartunis, penulis, pembicara publik, dan entah sebutan apa lagi yang sedang menunggu di depan nanti.

Maka berakumasilah tanpa henti, agar keunikan Anda semakin menjadi-jadi!


Sumber:prie [andrie wongso] 

3 Hari Dalam Hidup Ini

3 Hari Dalam Hidup Ini

September 20, 2008 · Filed Under Tips Motivasi   by Motivator Motivasi
Hari pertama : Hari kemarin.
Kita tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.
Kita tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.
Kita tak mungkin lagi menghapus kesalahan dan mengulangi kegembiraan yang Kita rasakan kemarin.
Biarkan hari kemarin lewat dan beristirahat dengan tenang;
lepaskan saja…

Hari kedua : hari esok.
Hingga mentari esok hari terbit,
Kita tak tahu apa yang akan terjadi.
Kita tak bisa melakukan apa-apa esok hari.
Kita tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.
Esok hari belum tiba; toh belum tentu esok hari Kita merengkuhnya
biarkan saja…
Yang tersisa kini hanyalah hari ini.
Pintu masa lalu telah tertutup,
Pintu masa depan pun belum tiba.
Pusatkan saja diri Kita untuk hari ini.
Kita dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila Kita mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari.
Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit.
Hiduplah apa adanya. Karena yang ada hanyalah hari ini, hari ini yang abadi.
Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada Kita.
Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudah berganti.
Ingatlah bahwa Kita menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri Kita sendiri
Jadi, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu
bingung, lakukan yang terbaik HARI INI dan lakukan sekarang juga


Read more: http://www.resensi.net/3-hari-dalam-hidup-ini/2008/09/#ixzz1DHntblcJ

Bekerja Sepenuh Hati

Suatu Ketika Mercedez Benz owner memiliki masalah dengan kran air di kamar mandi dalam rumahnya. Kran tersebut selalu bocor sampai Big Bos Marcedez itu khawatir akan keselamatan anaknya yang mungkin saja dapat terpeleset dan jatuh.
Mengikuti rekomendasi temannya, Mr. Benz menghubungi tukang ledeng agar memperbaiki kran miliknya. Akhirnya dibuat perjanjian untuk memperbaiki yaitu 2 hari kemudian. Karena si tukang ledeng cukup sibuk. Sama sekali si Tukang ledeng tidak mengetahui bahwa si penelpon adalah  termasuk orang penting, pemilik perusahaan mobil terbesar di Jerman.

Setelah ditelpon, satu hari kemudian si tukang ledeng menghubungi Mr. Benz untuk menyampaikan ucapan terima kasih karena telah bersedia menunggu hingga satu hari lagi.
Mr. Benz-pun kagum atas pelayanan si tukang ledeng dan cara berbicaranya.
Hari berikutnya pada hari yang telah ditentukan, si tukang ledeng datang untuk memperbaiki kran yang bocor di rumah Mr. Benz.
Setelah diutak-atik, akhirnya kran pun selesai diperbaiki dan setelah menerima pembayaran atas jasanya, si tukang ledeng pulang .
Sekitar 2(dua) minggu kemudian setelah hari itu, si tukang ledeng menelpon Mr. Benz untuk menanyakan apakah kran yang telah diperbaiki sudah benar-benar beres dan tidak ada masalah yang timbul? Ternyata Mr. Benz puas akan kerja si tukang ledeng dan mengucapkan terima kasih atas pelayanan si tukang ledeng. Mr. Benz berpikir, bahwa orang ini pasti orang yang hebat walaupun hanya tukang ledeng.
Beberapa bulan kemudian Mr. Benz merekrut si tukang ledeng untuk bekerja di perusahaannya. Tahukah Anda siapa namanya?
Ya, dialah Christopher L. Jr. Saat ini jabatannya adalah General Manager Customer Satisfaction and Public Relation di Mercedez Benz !
========
Sahabat Resensi.net, tahukah anda apa makna dari cerita diatas. Cerita diatas memberikan motivasi kepada kita untuk memberikan yang terbaik di kehidupan ini apapun posisi kita saat ini. Kita tidak tahu, sebenarnya posisi kehidupan kita dimana, namun dengan memberikan yang terbaik, kita tidak akan menoleh kebelakang melihat goresan cerita kehidupan kita dengan kekecewaan. Yang ada hanyalah senyum kepuasan akan apa yang telah kita lakukan.
Kehidupan ini hanyalah panggung sandiwara, maka sebaik-baik pemain adalah yang bermain sebaik mungkin dengan kesadaran bahwa perannya hanya sementara.
Ada naskah dan skenario Sang Pencipta yang tidak kita tahu.
Dibalik kebahagiaan, terkadang skenario selanjutnya adalah kesediihan, begitu pula terkadang dibalik kesedihan, skenario selanjutnya adalah kebahagiaan.
Hanya 2 hal yang dapat kita lakukan, yaitu meyakini bahwa skenario yang Allah berikan adalah yang terbaik dan berbuat yang terbaik dalam melalui setiap peristiwa kehidupan kita.
Maka jika Sahabat dalam kesedihan, kegalauan hati, keresahan jiwa, ingatlah bahwa itu hanya sementara…